PP Muhammadiyah: Tenaga Medis Boleh Menjamak Shalat dalam Kondisi Darurat Covid-19

Selama pandemi virus corona, tenaga medis diperbolehkan untuk menjamak shalatnya. Pesan utamanya, Rasulullah tak ingin menyulitkan umatnya.

PP Muhammadiyah: Tenaga Medis Boleh Menjamak Shalat dalam Kondisi Darurat Covid-19
Ilustrasi foto/Net

MONITORDAY.COM – Di tengah pandemi corona virus disease (Covid-19), tugas tenaga kesehatan yang berada di baris terdepan dalam penanganan kasus infeksi menjadi semakin berat. Hal itu pun menimbulkan sejumlah tanya soal bagaimana pelaksanaan ibadah untuk mereka.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Surat Edaran Nomor 03/EDR/I.0/E/2020 memberikan tuntunan ibadah dalam kondisi darurat Covid-19.

Untuk shalat fardhu, PP Muhammadiyah menjelaskan, apabila keadaan sangat menuntut karena tugasnya yang mengharuskan bekerja terus menerus memberikan layanan medis yang sangat mendesak, petugas kesehatan dapat menjamak shalatnya.

Tuntutan ini berdasarkan hadis Nabi saw. yang artinya: “Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw pernah menjamak salat Zuhur dan Asar dan salat Magrib dan Isya di Madinah tanpa keadaan takut dan tanpa hujan.

PP Muhammadiyah juga menyebutkan, bahwa dalam hadis Wakīʻ dikatakatan: Aku (Saʻīd Ibn Jubair) bertanya kepada Ibn Abbās mengapa Rasulullah saw melakukan demikian? Ibn ‘Abbās menjawab: Agar tidak menyulitkan umatnya [HR Muslim].

Hadis tersebut, kata PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah menjamak shalat di Madinah (tanfa safar), tanpa takut, dan tanpa hujan.

PP Muhammadiyah lantas menyitir penjelasan Imam Nawawi tentang beberapa tafsir yang berkaitan dengan hadis tersebut. Menurutnya, sejumlah imam berpendapat bolehnya menjamak salat di tempat (tidak dalam safar) karena adanya keperluan untuk itu asal tidak dijadikan kebiasaan. Menurut Imam Nawawi, Ini adalah pendapat Ibn Sīrīn dan Asyhab dari pengikut Mālik.

Sementara Al-Khaṭṭābī, kata Imam Nawawi, meriwayatkan pendapat ini dari al-Qaffāl asy-Syāsyī al-Kabīr pengikut asySyāfiʻī dari Isāq al-Marważī bahwa ini adalah pendapat sejumlah ahli hadis. Pendapat ini juga dianut oleh Ibn al-Munżir dan didukung oleh zahir pernyataan Ibn ‘Abbās bahwa Rasulullah saw. ingin untuk tidak menyulitkan umatnya.”